Angka kejadian bencana yang masih tinggi setiap tahun menjadikan salah satu ancaman bagi Kabupaten Banyumas terlebih di Tahun 2020. Data menunjukkan Tahun 2017 sebanyak 342 kejadian, Tahun 2018 sebanyak 273 kejadian, Tahun 2019 sebanyak 231 kejadian dan di Tahun 2020 puncaknya terdapat 690 kejadian.
Dengan kondisi tersebut di atas maka masyarakat tiada hentinya harus waspada terhadap ancaman-ancaman bencana yang berada di sekitarnya. Ibu Rumah Tangga memiliki peran strategis dalam penanggulangan bencana. Seorang ibu rumah tangga/perempuan sangat efektif dalam mentransfer pengetahuan dan wawasannya tentang kesiapsiagaan bencana kepada anak-anaknya, keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dengan demikian seorang ibu dapat menumbuhkan budaya sadar bencana dan bisa meminimalisir jumlah korban akibat bencana.
Namun demikian hal yang membuat miris adalah berdasarkan data-data dari lapangan, para korban bencana mayoritas berasal dari kaum perempuan dan anak-anak. Ini terjadi karena posisi Ibu yang selalu dekat dengan anak-anaknya. Artinya karena kodrat perempuan itu selalu ingin melindungi anak-anak dan anggota keluarga lainnya. Mengutip dari (Peterson K, 2007), bahwa perempuan dan anak-anak berisiko meninggal (14 kali) lebih besar dari pria dewasa dan B. Wisnu Widjaja juga menyampaikan berberapa kasus kejadian bencana, seperti kejadian Cylone di Bangladesh (1991), total korban sebanyak 14.000 (90% perempuan), (Ikeda, 1995).
Kesiapsiagaan bencana itu harus dimulai dari rumah dan yang paling efektif adalah melalui peningkatan kapasitas, kemampuan dan pemahaman tentang kesiapsiagaan bencana bagi ibu rumah tangga. Keluarga yang siaga akan mendukung kesiapsiagaan dan upaya pengurangan risiko bencana sebagai sebuah budaya bagi peradaban Indonesia. Inovasi Bunda Rumah Tangga Siaga Bencana ini menjadikan Ibu-ibu menjadi solusi. Ibu sebagai guru kesiapsiagaan dan rumah sebagai sekolahnya. Ibu Rumah Tangga dan anak-anak alah orang paling terdampak ketika terjadi bencana namun memiliki peran yang sangat penting dalam menyelamatkan keluarga dan mendidik anak-anak tentang kebencanaan. Untuk itu ibu harus tangguh dan
siaga menyiapkan keluarganya dalam menghadapi berbagai bencana.
Bunda Rumah Tangga Siaga Bencana memiliki keterkaitan dengan kategori PEMBERDAYAAN MASYARAKAT. Keluarga terutama ibu-ibu berupaya dan berproses untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan keluarga terkecilnya dalam mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana di sekitarnya.
Semenjak dilantik menjadi Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas pada Maret 2020, Titik Pujiastuti, S.H., M.Pd. (Inovator) melihat pentingnya edukasi seluruh elemen masyarakat Kabupaten Banyumas perihal kesiapan menghadapi bencana di lingkungan keluarga. Keluarga merupakan unit terkecil masyarakat yang terdiri dari suami, istri, dan anak. Dimana keluarga menjadi madrasah pertama dan utama dalam membentuk karakter, mental, serta kualitas SDM.
Tahun 2020 merupakan puncak tertinggi grafik kejadian bencana di Kabupaten Banyumas. Dalam sejarah BPBD Kabupaten Banyumas, baru di tahun 2020 kenaikan kejadian bencana mencapai 100% atau dua kalipat dari tahun-tahun sebelumnya. Ditambah adanya pandemi wabah covid-19 yang datang ke Indonesia dari bulan Maret 2020 dan semakin meningkat hingga akhir tahun. Meskipun di beberapa daerah di Kabupaten Banyumas kasus positif turun, namun itu tidak menjadikan kewaspadaan kita menjadi lengah.
Dari kondisi tersebut, muncul ide inovasi yang mengajarkan kepada keluarga di Kabupaten Banyumas terutama ibu-ibu mengenai bahanyanya ancaman bencana yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja serta bagaimana meminimalisir dampak bencana. Ide itu memunculkan inovasi bernama Bunda Rumah Tangga Siaga Bencana. Pada akhirnya tujuan inovasi adalah menurunkan jumlah korban akibat bencana di tahun 2021 dan ditahun-tahun berikutnya sejalan dengan diimplementasikannya secara masif inovasi Bunda Rumah Tangga Siaga Bencana di seluruh wilayah Kabupaten Banyumas

0 Comments